Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan

13 Januari 2009

Premium Dihapus dari Daftar Subsidi APBN 2009




Selasa, 13/01/2009 14:37 WIB

Jakarta - Premium rupanya sudah dihapus dalam daftar BBM yang disubsidi pemerintah. Dalam APBN 2009, pemerintah hanya menghitung solar dan minyak tanah dalam subsidi BBM sebesar Rp 54 triliun.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu
ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa
(13/1/2009).

"Premium kan mengikuti harga pasar. Kalau premium itu kan sudah tidak subsidi
sekarang solar. Jadi di APBN hanya subsidi solar dan minyak tanah, premium sudah
dilepas subsidinya. Premium sudah dilepas pada harga sekarang. dia merupakan BBM
tanpa subsidi," tuturnya.

Karena itu, evaluasi harga BBM yang dilakukan tiap bulan hanya akan menghitung harga solar saja. Sementara harga premium akan dibiarkan mengikuti harga keekonomian.

"Premium seperti Pertamax cuma bedanya kalau Pertamax dilepas sama sekali, kalau
premium ada batas atas yaitu Rp 6.000 sesuai APBN," ujarnya.

Sementara itu mengenai mekanisme penghitungan selisih harga yang merugikan SPBU
jika terjadi penurunan harga, Anggito mengatakan Pertamina akan memberikan
kompensasi.

"Itu hitungannya antara pemerintah dan Pertamina. Pertamina bikin hitung-hitunganan sendiri dengan SPBU. Nanti Pertamina bilang ke pemerintah berapa kompensasi yang diperlukan, jadi biaya siapa. Apakah akan menambah subsidi atau mengurangi laba. Itu urusan Pertamina dan pemerintah," paparnya.

Selain itu, mengenai penurunan harga solar yang ditetapkan kemarin, Anggito
mengatakan penurunan tersebut termasuk stimulus kepada rumah tangga dan dunia
usaha.

"Penurunan harga solar juga diskon untuk TDL termasuk kebijakan memberikan
stimulus. Jadi dari sisi fiskal dia merupakan tambahan belanja, stimulus pada
perekonomian. Nanti ditambah Rp 12,5 triliun dan stimulus BBM dan listrik
ditambah stimulus baru untuk infrastruktur. Jadi stumulus ada tiga jenis, yaitu
satu untuk rumah tangga, dunia usaha, pengeluaran infrastruktur untuk lapangan
kerja," pungkasnya.Wahyu Daniel - detikFinance
Foto: lih/detikFinance

21 Desember 2008

SBY: Harga BBM Bisa Turun Lagi




Minggu, 21/12/2008 18:56 WIB
Jakarta - Jika harga minyak dunia terus turun maka penurunan harga BBM bersubsidi masih dimungkinkan. Penurunan ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

"Kami masih terus melihat fluktuasi harga minyak dunia. Jika ini penurunan (harga minyak dunia) terus berlangsung, sangat mungkin harga BBM bisa turun lagi," ujar Presiden SBY.

Ia menyampaikan hal itu dalam Munas V Kadin yang bertema 'Membangun Ekonomi Daerah untuk Kebangkitan Ekonomi Nasional' di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (21/12/2008).

Menurut SBY, penurunan harga BBM bersubsidi tersebut tentunya akan meningkatkan daya beli masyarakat.

"Dari penurunan harga BBM 15 Desember, pemerintah juga telah menurunkan biaya transportasi karena harga solar dan premium turun," katanya.

Penurunan BBM dan transportasi, imbuh SBY, diharapkan bisa berimbas pada menurunkan harga kebutuhan pokok, seperti beras dan minyak goreng curah.

"Yang jelas harga minyak goreng curah harus segera diturunkan," ungkapnya.

Pada 1 Desember lalu, pemerintah telah menurunkan harga premium dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter, dan harga solar tetap pada Rp 5.500 per liter.

Dan pada 15 Desember pemerintah menurunkan premium Rp 500 menjadi Rp 5.000 per liter. Sedangkan harga solar turun Rp 700 menjadi Rp 4.800 per liter.

Penurunan harga BBM ini sejalan dengan penurunan harga minyak mentah dunia yang kini semakin tajam. Pada penutupan perdagangan Jumat waktu AS (19/12/2008) harga minyak di New York untuk jenis light pengiriman Januari turun US$ 2,35 ke posisi US$ 33,87 per barel.

Selama perdagangan atau intraday di hari itu, harga minyak bahkan sempat turun ke US$ 32,4 per barel yang merupakan posisi terendah sejak 9 Februari 2004.

Sebaliknya harga minyak untuk antaran Februari naik. Untuk minyak jenis light pengiriman bulan Februari naik 69 sen ke level US$ 42,36 per barel. Begitu juga dengan harga minyak di London jenis Brent North Sea untuk pengiriman Februari naik 64 sen ke posisi US$ 44 per barel. Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance
Foto: Abror/Setpres

14 Desember 2008

Harga BBM Turun, Inflasi Bisa Ditekan 0,3%-0,5%



Minggu, 14/12/2008 19:06 WIB
Jakarta - Penurunan harga premium menjadi Rp 5.000 per liter dan solar menjadi Rp 4.800 per liter diharapkan bisa menekan inflasi sebesar 0,3% hingga 0,5%.

Demikian disampaikan Menko Perekonomian sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam keterangan pers usai rapat koordinasi terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Minggu (14/12/2008).

"Untuk inflasi kita perkirakan penurunan 0,3-0,5% yang dikontribusikan dari penurunan harga BBM ini," katanya.

Dengan adanya penurunan harga ini, pemerintah berharap masyarakat dan dunia usaha bisa terbantu. Daya beli masyarakat bisa meningkat, dunia usaha juga berkurang bebannya dalam meghadapi krisis ekonomi global.

"Diharapkan dengan penurunan ini mampu membantu masyarakat dan dunia usaha. Daya beli masyarakat dapat meningkat seiring penurunan harga BBM ini, kita juga mengharapkan untuk kurangi dampak krisis global," katanya.

Ia menegaskan, pemerintah akan kembali mereview harga BBM sesuai dengan perubahan harga minyak mentah dan BBM dunia. Jika harga minyak dunia turun, maka harga BBM akan kembali turun. Tapi jika harga minyak naik, maka penyesuaian harga BBM tidak akan melebihi harga awal sebelum diturunkan pertama kali.

"Jika nanti harga BBM (dunia) akan naik, akan kita jaga kenaikan tidak melebihi harga pada awal sebelum penurunan pertama. Yaotu premium Rp 6.000 dan solar Rp 5.500. Demikian pula jika harga minyak duania tetap rendah, kita terus review harganya tiap bulan," katanya.Anwar Khumaini - detikFinance
Foto: dok Depkeu