Tampilkan postingan dengan label Bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bumi. Tampilkan semua postingan

25 Agustus 2009

Pemda NTB Resmi Pimpin Konsorsium Pembeli 14% Saham Newmont

Pemda NTB Resmi Pimpin Konsorsium Pembeli 14% Saham Newmont

Tambang Batu Hijau Newmont
Menteri Keuangan Sri Mulyani secara resmi menyetujui dan menunjuk tiga pemerintah daerah di NTB yakni Pemprov NTB, Pemkab Sumbawa dan Sumbawa Barat menjadi lead konsorsium pembelian 14 persen saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) tahun 2008 dan 2009 senilai US$ 493,6 juta.

"Alhamdulillah, Bu Menteri Keuangan telah menunjuk pemerintah daerah NTB untuk mengkoordinir seluruh proses pembelian 14 persen saham Newmont. Kita sudah menerima pemberitahuan itu secara resmi," kata Gubernur NTB HM Zainul Majdi di Mataram, Selasa (25/8/2009).

Pagi tadi, Gubernur NTB juga telah mengirimkan surat ke Menteri Keuangan untuk memastikan sekiranya ada tim pemerintah pusat yang akan bergabung dalam konsorsium pimpinan pemerintah daerah. Sejauh ini memang belum ada keputusan resmi soal mekanisme akuisisi 14 persen saham ini.

"Kita ingin bergerak cepat. Kita juga ingin bekerja secara efesien. Jadi kalau memang ada tim atau person dari pemerintah pusat, kita meminta untuk segera bergabung, karena akhir September, proses ini sudah harus final," kata Gubernur.

Dalam konsorsium untuk pembelian 14% saham Newmont ini, pemerintah daerah kata Gubernur tetap membuka peluang bagi BUMN yang ingin turut serta membeli saham Newmont. BUMN itu kata dia akan masuk dalam konsorsium Perusahaan Daerah milik Pemda, yakni PT Daerah Maju Bersaing dengan PT Multicapital, anak usaha Bumi Resources dan Bakrie Capital yang bertindak sebagai penyandang dana.

Dua perusahaan ini kini tengah memproses pembentukan perusahaan patungan PT Multi Daerah Bersaing di Departemen Hukum dan HAM untuk mengeksekusi pembelian 10 persen saham Newmont yang telah dilepas tahun 2006 dan 2007.

"Kalau ada BUMN mau ikut bersama-sama dengan pemerintah daerah, kita minta masuk dalam perusahaan joint venture. Jadi disitu ada tiga pihak, ada pemerintah daerah, Multicapital dan BUMN. Dengan begitu, semua kepentingan terwadahi," kata Gubernur.

Seperti diketahui, sesuai keputusan arbitrase, Newmont harus mendivestasi 51% sahamnya ke investor lokal dan pemerintah hingga 2010. Sebanyak 20% saham Newmont kini sudah dimiliki pengusaha lokal, Jusuf Merukh. Sisanya didivestasi yakni 10% akan dibeli Pemda NTB dan Multicapital sementara 14% akan dibeli pemerintah pusat. Sisanya 7% akan didivestasi tahun 2010.

Pemerintah pusat mendapatkan jatah divestasi untuk tahun 2008 dan 2009 secara total 14%. Sebelumnya pemerintah dan Newmont sudah menyepakati nilai 100 persen aset NNT sebesar US$ 3,526 miliar. Dengan nilai aset sebesar itu, maka nilai 14 persen saham divestasi untuk 2008 dan 2009 adalah sebesar US$ 493,64 juta.

Sementara Pemda NTB mendapatkan jatah divestasi Newmont tahun 2006 dan 2007 sebesar 10%. Pemda NTB memiliki jatah untuk divestasi 10 persen saham itu ada pada harga US$ 391 juta atau setara dengan Rp 4,1 triliun. Pemda NTB menggandeng Multicapital yang merupakan anak usaha Bumi Resources dan Bakrie Capital. Kusmayadi, Detikfinance

16 Mei 2009

Review Sepekan: Bakrie sang Penentu

Sabtu, 16/05/2009 10:30 WIB


Jakarta - Arah perdagangan saham pada pekan ini sangat ditentukan oleh gerak saham-saham Grup Bakrie. Mereka menguat, IHSG melonjak. Grup Bakrie merosot, IHSG terseret.

Hal ini terjadi karena memang kapitalisasi saham-saham kelompok grup Bakrie sangat besar. Saham-saham grup Bakrie dalam beberapa pekan terakhir kembali menjadi perburuan seiring dengan harapan pulihnya pasar saham.

Kondisi bursa regional yang masih naik turun dengan arah yang belum jelas membuat investor tidak lagi menjadikannya sebagai sentimen utama penentu pergerakan IHSG. Investor kini sudah mulai fokus pada fundamental emiten.

Di akhir pekan, IHSG terpangkas cukup besar seiring profit taking besar-besaran dari saham grup Bakrie. Aksi jual yang cukup besar bahkan sempat membuat order saham Bakrie & Brothers sempat susah masuk ke sistem JATS Next-G.

Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini adalah:

  • Pada perdagangan Senin (11/5/2009) IHSG turun 31,791 poin (1,71%) menjadi 1.830,741.
  • Pada perdagangan Selasa (12/5/2009), IHSG menguat 11,281 (0,62%) ke level 1842,022.
  • Pada perdagangan Rabu (13/5/2009), IHSG ditutup menguat 9,310 (0,51%) ke level 1851,332.
  • Pada perdagangan Kamis (14/5/2009) IHSG terjungkal 66,329 poin (3,58%) menjadi 1.785,003.
  • Pada perdagangan Jumat (15/5/2009) IHSG terpangkas 34,089 poin (1,91%) menjadi 1.750,914.

Berikut review IHSG oleh Panin Sekuritas:

Tekanan jual pada saham Grup Bakrie serta panasnya kondisi politik tanah air menjelang pendaftaran capres-cawapres menyebabkan indeks anjlok -1,91% ditutup pada 1.750,91. Kondisi bursa regional yang tengah menguat serta pengumuman PDB Indonesia (4,4%) yang diatas perkiraan ekonom, tidak mampu menyelamatkan indeks dari zona negatif.

Sepanjang pekan lalu IHSG bergerak melemah -5,99% dari pembukaan 1.862,53 hingga penutupan pada hari Jumat di 1.750,91. Profit taking dilakukan pemodal setelah indeks bergerak menguat dalam 2 pekan berturut-turut. Dari faktor eksternal, meningkatnya initial jobless claim dan melemahnya penjualan ritel juga menyebabkan pergerakan pasar saham global bergerak cenderung melemah pekan lalu. Nurul Qomariah, Detik Finance

24 November 2008

Hasil Due Dilligence PTBA Akuisisi Bumi Segera Keluar



Senin, 24/11/2008 18:04 WIB
Jakarta - PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) Tbk akan segera mengeluarkan due dilligence (uji kelayakan) soal rencana pembelian saham PT Bumi Resources Tbk.

Hal tersebut disampaikan Dirut PTBA Sukrisno di Kantor Kementerian BUMN, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (24/11/2008)

"Soal BUMI, belum bisa saya sampaikan hari ini, tunggu saja. Mudah-mudahan dalam satu dua hari ini sudah selesai due dilligence-nya," ujarnya.

PTBA dalam membeli saham Bumi ikut dalam konsorsium Northstar Pacific yang terafiliasi dengan Texas Pacific Group di Indonesia. Menurut Sukrisno, PTBA tetap berminat untuk membeli saham Bumi.

"Sampai saat ini masih, tapi bisa saja, karena saya melihat saham BUMI telah Rp 600 sekian. Itu kan satu pertimbangan, kira-kira pertanggungjawabannya gimana," ujarnya.

Namun jika hasil due dilligence itu ternyata pembelian saham tidak terbukti menguntungkan perusahaan, maka PTBA cabut dari rencana itu. PTBA menyiapkan dana internal dan eksternal untuk membeli saham Bumi.

"Karena itu, pertimbangannya kan begitu banyak. Ini kan harganya turun terus, apakah kita jadi masuk. 3 yang harus jadi pertimbangan, pertama, menguntungkan perusahaan, kedua, clean, ketiga, transparan. Kalau tidak menguntungkan bagi perusahaan, barangkali kita nggak ngambil," ujarnya.Angga Aliya ZRF - detikFinance
Foto: Reuters

01 November 2008

BEI Minta Bakrie & Brothers Segera Gelar Paparan Publik


Sabtu, 01/11/2008 19:10 WIB
Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) segera menggelar paparan publik setelah mencapai kesepakatan dengan Northstar Pacific untuk pelepasan 35% saham PT Bumi Resources Tbk senilai US$ 1,3 miliar.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BEI Erry Firmansyah kepada detikFinance, Sabtu (1/11/2008).

"Kalau memang sudah terjadi transaksi, maka kita akan minta mereka segara lakukan public ekspose untuk menjelaskan tansaksi tersebut secara detail untuk kemudian dapat segera kita buka suspensinya," jelas Erry.

Presdir BUMI, Ari S Hudaya sore ini mengumumkan kesepakatan dengan Northstar Pacific untuk pembelian saham BUMI. BNBR akan menggunakan dana hasil penjualan BUMI tersebut untuk membayar utangnya.

Dari penjualan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sebelumnya, BNBR, menurut Ari telah mengantongi US$ 1,357 miliar. BNBR memiliki utang gadai saham dengan jumlah pokok sebesar Rp 11,51 triliun dan bunga pinjaman sekitar Rp 1,22 triliun. Totalnya sekitar Rp 12,73 triliun.

BEI telah menghentikan perdagangan saham 3 emiten Grup Bakrie yakni BNBR, BUMI dan ENRG (Energi Mega Persada) sejak 7 Oktober lalu ditengah kejatuhan pasar saham dan kabar gadai saham yang simpang siur.

Tiga emiten Grup Bakrie lain yang juga sempat disuspensi sudah kembali diperdagangkan sejak 17 Oktober lalu yakni PT PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).(qom/qom)Wahyu Daniel - detikFinance
Erry Firmansyah (Foto: Indro/detikcom)

Bakrie Jual Murah Saham Bumi, Lepasnya Andalan Grup Bakrie



Sabtu, 01/11/2008 14:42 WIB
Paparan Publik Bakrie
Jakarta - PT Bakrie and Brothers Tbk akhirnya melepas seluruh kepemilikannya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kepada konsorsium Northstar Pacific senilai US$ 1,3 miliar. Penjualan BUMI kepada konsorsium Northstar Pacific itu sekaligus menandai pelepasan andalan Grup Bakrie, demi melunasi utang-utangnya.

BNBR terpaksa melepas seluruh portofolionya di BUMI lantaran sedang dililit utang gadai saham dengan jumlah pokok sebesar Rp 11,51 triliun dan bunga pinjaman sekitar Rp 1,22 triliun. Totalnya sekitar Rp 12,73 triliun.

Rencana penjualan BUMI pun langsung mendapat sambutan hangat. Investor dari dalam dan luar negeri berebut saham BUMI, termasuk para BUMN.

Siapa pun pasti ngiler dengan BUMI. Hingga semester I-2008, BUMI berhasil membukukan laba bersih hingga US$ 436,8 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun. Perolehan laba tersebut berarti naik hingga 150% dibandingkan semester I-2007, terutama berkat naiknya harga batubara.

Namun kilauan kinerja BUMI tersebut tidak terjadi dalam waktu sekejap dan sempat mengalami jatuh bangun hingga pergantian bisnis inti.

Sementara harga sahamnya pun terus menanjak. Jika pada tahun 2006 harganya hanya berkisar padaRp 760, maka pada tahun-tahun berikutnya harga saham BUMI terus menanjak dan mencapai titik tertingginya pada 23 Juni 2008 sebesar Rp 8.500.

Namun semenjak kabar gadai saham BUMI muncul, sahamnya terus tergerus. Pada 6 Oktober 2008, saham BUMI ditutup pada Rp 2.175, sebelum akhirnya disuspensi pada perdagangan 7 Oktober.

Berikut sepenggal kisah dari Bumi Resources yang dulunya sempat bernama PT Bumi Modern Tbk, seperti dikutip detikFinance dari situs BUMI dan sumber-sumber lain, Sabtu (1/11/2008):

Tahun 1990, mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.

Tahun 1997, PT Bakrie Capital Indonesia mengambil alih seluruh saham yang dimiliki Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 (AJB Bumiputera) sebanyak 58,51%.

13 Agustus 1998, RUPSLB Bumi Modern menyetujui perubahan bisnis inti dari sektor perhotelan dan turisme ke bisnis migas serta pertambangan.

Tahun 2000, perseroan mengambil alik 97,5% saham Gallo Oil (Jersey) Ltd. Gallo Oil didirikan di Jersey pada 17 Desember 1997.

20 September 2000, Departemen Hukum dan HAM menyetujui perubahan nama dari PT Bumi Modern Tbk menjadi PT Bumi Resources Tbk.

November 2001, BUMI mengakuisisi 80% saham PT Arutmin Indonesia dari BHP Minerals Exploration Inc. Ketika itu, Arutmin merpakan tambang batubara terbesar keempat di Indonesia dengan 4 tambang terbuka di Senakin, Satui, Asam-asam dan Batulicin, yang semuanya berlokasi di Kalimatan Selatan.

Oktober 2003, BUMI mengakuisisi 100% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), sekaligus menempatkan BUMI sebagai produsen batubara terbesar di Indonesia.

April 2004, perseroan mengakuisisi 19,99% saham Arutmin yang dimiliki PT Ekakarsa Yasakarya Indonesia. Dengan demikian, kepemilikan BUMI di Arutmin mencapai 99,99%.

Desember 2005, BUMI memfinalisasi divestasi saham KPC. Hasilnya, kepemilikan BUMI di KPC baik langsung ataupun tidak langsung mencapai 95%.

21 April 2008, induk BUMI, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) menggadaikan saham BUMI untuk memperoleh pinjaman pendek dari Odickson Finance di harga Rp 6.790 per saham.

7 Oktober 2008, 6 emiten Grup Bakrie disuspensi, termasuk BUMI.

31 Oktober 2008, BNBR mencapai kesepakatan untuk pembelian 35% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai US$ 1,3 Miliar.
(qom/qom)Nurul Qomariyah, Indro Bagus SU - detikFinance

Jual Bumi Resources, Bakrie Tak Punya Opsi Beli Kembali


Sabtu, 01/11/2008 16:41 WIB
Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menjual 35% saham PT Bumi Resources Tbk senilai US$ 1,3 miliar. Pembelian itu juga tidak menyertakan opsi beli kembali atau buy back atas saham yang sudah dibeli Northstar Pacific.

"Transaksi ini adalah straight deal dan tidak ada opsi buy back," tegas Presiden Director BUMI Ari S Hudaya dalam konferensi pers di lobi Wisma Bakrie II, Jakarta, Sabtu (1/11/2008).

Ari mengungkapkan, dana hasil penjualan saham BUMI itu akan digunakan untuk membayar utang. Dari penjualan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sebelumnya, BNBR, menurut Ari telah mengantongi US$ 1,357 miliar.

"Meski utang belum jatuh tempo, tapi kita tidak mau spekulasi dengan kondisi market sekarang. Aksi korporasi itu dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban lebih cepat dari yang dijawadwalkan, sebagai bentuk tanggapan proaktif manajeman terhadap kondisi pasar yang irasional sejak terjadinya krisis subprime di AS. Kondisi tersebut menyebabkan rontoknya pasar modal dunia dan terjadinya kekeringan likuiditas. Jadi kita harapkan dengan deal ini, utang bisa selesai," urai Ari.

BNBR terpaksa melepas seluruh portofolionya di BUMI akibat belitan utang gadai saham dengan jumlah pokok sebesar Rp 11,51 triliun dan bunga pinjaman sekitar Rp 1,22 triliun. Totalnya sekitar Rp 12,73 triliun. Hasil penjualan 15,3% saham ELTY dan 5,6% saham UNSP hanya meraup dana sebesar US$ 56 juta atau setara dengan Rp 516,6 miliar.

Padahal sisa pokok pinjaman berikut bunga yang masih harus dibayarkan BNBR mencapai Rp 12,73 triliun. Artinya, jika dikurangi perolehan penjualan ELTY dan UNSP, total yang masih harus dibayarkan BNBR mencapai Rp 12,213 triliun.

Saham BNBR, BUMI dan ENRG (Energi Mega Persada) sudah disuspensi sejak 7 Oktober lalu hingga hari ini. Sementara 3 emiten Grup Bakrie lainnya, ELTY, UNSP dan BTEL sudah dicabut suspensinya.

Terkait suspensi tersebut, Ari mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan kepada otoritas Bursa Efek Indonesia, meski tambahan suspensi sebelumnya diajukan oleh BNBR. BNBR juga sudah mengirim surat terkait tercapainya kesepakatan dengan Northstar Pacific pada Jumat (31/10/2008) malam.

Northstar Pacific merupakan afiliasi dari Texas Pacific Group (TPG) , sebuah private equity fund kelas dunia. TPG sendiri saat ini merupakan pemilik 71,61% saham Bank BTPN, setelah melakukan akuisisi pada 14 Maret 2008.
(qom/qom)Wahyu Daniel - detikFinance