Tampilkan postingan dengan label SBY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SBY. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2009

Kronologi Konflik SBY-Mega

Senin, 16/03/2009 09:46 WIB
Jakarta - Benih-benih konflik Mega-SBY bermula pada 2003, saat muncul isu SBY akan maju sebagai capres. Setelah itu perseteruan mengerucut hingga akhirnya Mega enggan bertemu atau bicara dengan eks anak buahnya itu.

Berikut ini kronologi konflik keduanya, disarikan dari buku Prof Tjipta Lesmana Dari Soekarno Sampai SBY Intrik & Lobi Politik Para Penguasa:

Akhir 2003: Santer beredar isu Menko Polkam SBY akan maju dalam Pilpres 2004. SBY sering muncul dalam iklan di TV untuk sosialisasi pemilu. Karena banyak protes, KPU menghentikan tayangan itu. Kubu Mega mencium 'aroma politik' SBY dan mengucilkannya.

1 Maret 2004: Sesmenko Polkam Sudi Silalahi menyatakan, SBY merasa dikucilkan oleh Presiden Megawati dengan tidak dilibatkan dalam pembahasan tentang PP Kampanye Pejabat Tinggi Negara. Istana menjawab, saat itu SBY ada di Beijing. 'Perang mulut' kedua kubu pun dimulai. Taufiq Kiemas menyebut SBY 'jenderal kok kayak anak kecil'.

9 Maret 2004: SBY mengirim surat pada Megawati, isinya konsultasi tugasnya sebagai Menko Polkam. Mega tak membalasnya.

12 Maret 2004: SBY mengirim surat pada Megawati, mengundurkan diri sebagai Menko Polkam.

13 Maret 2004: SBY berkampanye di Banyuwangi untuk Partai Demokrat.

16 September 2004: 'Debat capres' di televisi. Mega berpesan pada panitia bahwa tidak ada acara jabat tangan antar sesama capres.

5 Oktober 20004: Hari TNI ke-59, Presiden Megawati berpesan agar semua pihak legowo menerima hasil pilpres. Mega meneteskan air mata.

Saat itu KPU telah mengumumkan bahwa pemenang pilpres adalah SBY. SBY hadir dalam HUT TNI itu dan menjadi 'bintang lapangan'. Tempat duduk SBY dan Mega diatur sedemikian rupa sehingga keduanya tidak berjumpa.

20 Oktober 2004: SBY membacakan sumpah presiden. Mega yang diundang menolak datang dengan alasan agar khusyu mendoakan acara SBY itu berjalan lancar. Faktanya, Mega memilih berkebun dan membaca buku di rumahnya di Kebagusan, Jaksel.

20 Oktober 2004 sore: Mega mengundang warga sekitar dan kader PDIP untuk buka puasa di Kebagusan. "Saya katakan, kita bukan kalah (dalam pemilu), tapi kurang suara. Jangan merasa kita kalah, kita hanya kekurangan suara!" pidato Mega kala itu.

Saat Mega bertanya apakah kader PDIP siap merebut kembali "kursi" yang lepas itu, hadirin menjawab,"Siaaap!"

Tahun 2005: Indonesia menjadi tuan rumah Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika. Presiden SBY mengirim Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro untuk mengirim undangan pada Mega, sebab Purnomo dinilai dekat dengan Mega. Mega menolak menerima Purnomo. ( nrl / iy ) Nurul Hidayati - detikPemilu

Mengapa Mega Tak Mau Bicara dengan SBY..?


Senin, 16/03/2009 08:41 WIB

Jakarta - Presiden SBY kembali menegaskan kesediaannya mencairkan hubungan dengan Megawati yang telah membeku sejak 2004.

"Andaikata, andaikata, Ibu Mega bilang besok saya mau bertemu dengan SBY, maka saya pun besok juga akan mau bertemu dengan beliau. Banyak hal yang perlu diklarifikasi antara saya dan beliau," ujar SBY dalam acara silaturahmi dengan wartawan di kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2009).

PDIP, partai yang dipimpin Mega, sendiri masih enggan melayani SBY. "Kan tidak ada masalah yang mendesak yang mengharuskan kedua beliau untuk ketemu," ujar Ketua PDIP Tjahjo Kumolo.

Bagaimana sebenarnya konflik ini bermula? Untuk kilas balik, ada baiknya kita buka buku laris karya Prof Dr Tjipta Lesmana MA berjudul Dari Soekarno Sampai SBY Intrik & Lobi Politik Para Penguasa.

Di halaman 303, Prof Tjipta menulis, jauh sebelum Pilpres 2004, Presiden Megawati diam-diam melakukan semacam investigasi tentang keinginan dan kesiapan sejumlah pembantunya untuk terjun dalam pesta demokrasi itu. Ketika itu sejumlah menteri sudah santer disebut-sebut bakal mencalonkan diri. Mereka antara lain SBY, Yusril Ihza Mahendra, Hamzah Haz dan Jusuf Kalla. Investigasi ini juga tampaknya juga dilakukan Mega untuk mencari pasangan cawapres.

Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra yang ditanya Megawati mengaku menjawab apa adanya bahwa dia siap dicapreskan oleh PBB. Apakah dirinya akan berpasangan dengan SBY, Yusril menjawab tidak.

Berbeda dengan Yusril, SBY selalu mengelak menjawab secara eksplisit setiap kali ditanya oleh wartawan. Dengan diplomatis, SBY selalu menjawab bahwa ia masih berkonsentrasi pada pelaksaan tugasnya sebagai Menko Polkam.

Memasuki tahun 2004 wajah SBY sering tampil di layar televisi, terkait program sosialisasi pemilu 2004. Oleh sebagian kalangan, tayangan itu dinilai kampanye terselubung SBY. Program ini kemudian distop KPU karena banyak protes.

Megawati dan kubunya rupanya menaruh curiga pada manuver SBY. "Sumber penulis menuturkan bahwa yang membuat Megawati kesal, bercampur galau, adalah sikap SBY yang dinilai tidak jantan, yakni tidak mau jujur ketika ditanya presiden apakah ia hendak mencalonkan diri. Kalau saja SBY mengambil sikap seperti Yusril, persoalan mungkin menjadi lain: sejak awal Megawati pasti akan meminta SBY meninggalkan kabinet; sama halnya dnegan Yusril. Namun SBY selalu menunjukkan sikap yang ambivalen, Megawati pun menggunakan taktik lain. Secara sistematis dan diam-diam dia mengucilkan SBY dari kabinet," tulis Prof Tjipta di halaman 305.

Pengucilan itu dilakukan dengan tidak melibatkan SBY dalam sidang kabinet terkait bidang tugasnya. Ketika isu SBY dipinggirkan ini mencuat, Mega sudah mencium aroma politik SBY. Muncul pula pernyataan Taufiq Kiemas yang emosional, mengecam sikap SBY yang dinilai "seperti anak kecil". "Dia menjadi Menko Polkam kan diangkat Presiden. Karena itu mestinya dia lapor ke Presiden bahwa dia mau mencalonkan diri sebagai capres," komentarnya.

Konflik SBY-Mega berakhir ketika pada 12 Maret 2004, SBY mundur sebagai Menko POlkam. Sehari setelah mundur, SBY langsung berkampanye untuk Partai Demokrat di Banyuwangi, Jawa Timur. Tentunya, kampanye ini tak mungkin dilakukan mendadak alias telah disusun jauh hari, saat dia masih menjabat sebagai pembantu Megawati.

"SBY dianggap pengkhianat. Menikam dia (Mega-red) dari belakang! Enggak gentle," ucap Roy Janis (halaman 289). Roy adalah tangan kanan Mega yang kini berseberangan dengan Mega dan mendirikan PDP.

"SBY dianggap menelikung dia. Mengkhianati dia," kata Laksamana Sukardi, orang kepercayaan Mega yang kini satu gerbong dengan Roy.

Menurut Roy, kegusaran dan kebencian Mega terhadap SBY bahkan diartikulasikan dalam rapat DPP PDIP. "Kalau orang lain, Amien Rais presiden, Wiranto presiden, siapalah, saya datang. Tapi, kalau ini (SBY), saya enggak bisa, karena dia menikam saya dari belakang!" begitu kata Mega di rapat pimpinan DPP PDIP sebagaimana ditirukan Roy.

Alhasil, saat SBY membacakan sumpah presiden pada 20 Oktober 2004, Mega memilih berkebun dan membaca buku di kediamannya di Kebagusan, Jaksel, tak memenuhi undangan pengambilan sumpah. ( nrl / irw )Nurul Hidayati

21 Desember 2008

SBY: Harga BBM Bisa Turun Lagi




Minggu, 21/12/2008 18:56 WIB
Jakarta - Jika harga minyak dunia terus turun maka penurunan harga BBM bersubsidi masih dimungkinkan. Penurunan ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

"Kami masih terus melihat fluktuasi harga minyak dunia. Jika ini penurunan (harga minyak dunia) terus berlangsung, sangat mungkin harga BBM bisa turun lagi," ujar Presiden SBY.

Ia menyampaikan hal itu dalam Munas V Kadin yang bertema 'Membangun Ekonomi Daerah untuk Kebangkitan Ekonomi Nasional' di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (21/12/2008).

Menurut SBY, penurunan harga BBM bersubsidi tersebut tentunya akan meningkatkan daya beli masyarakat.

"Dari penurunan harga BBM 15 Desember, pemerintah juga telah menurunkan biaya transportasi karena harga solar dan premium turun," katanya.

Penurunan BBM dan transportasi, imbuh SBY, diharapkan bisa berimbas pada menurunkan harga kebutuhan pokok, seperti beras dan minyak goreng curah.

"Yang jelas harga minyak goreng curah harus segera diturunkan," ungkapnya.

Pada 1 Desember lalu, pemerintah telah menurunkan harga premium dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter, dan harga solar tetap pada Rp 5.500 per liter.

Dan pada 15 Desember pemerintah menurunkan premium Rp 500 menjadi Rp 5.000 per liter. Sedangkan harga solar turun Rp 700 menjadi Rp 4.800 per liter.

Penurunan harga BBM ini sejalan dengan penurunan harga minyak mentah dunia yang kini semakin tajam. Pada penutupan perdagangan Jumat waktu AS (19/12/2008) harga minyak di New York untuk jenis light pengiriman Januari turun US$ 2,35 ke posisi US$ 33,87 per barel.

Selama perdagangan atau intraday di hari itu, harga minyak bahkan sempat turun ke US$ 32,4 per barel yang merupakan posisi terendah sejak 9 Februari 2004.

Sebaliknya harga minyak untuk antaran Februari naik. Untuk minyak jenis light pengiriman bulan Februari naik 69 sen ke level US$ 42,36 per barel. Begitu juga dengan harga minyak di London jenis Brent North Sea untuk pengiriman Februari naik 64 sen ke posisi US$ 44 per barel. Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance
Foto: Abror/Setpres

10 Oktober 2008

SBY: Saya Belum Baca Laskar Pelangi


Rabu, 08/10/2008 23:38 WIB
Jakarta - Meski baru tampil di satu film, Lintang dkk sudah punya banyak penggemar berat. Ini terlihat dalam acara nonton bersama film Laskar Pelangi dengan Presiden SBY.

Dua belas bocah asal Belitung itu langsung jadi rebutan foto bersama setiba di lokasi acara di Blitz Megaplex, Jakarta, Rabu (8/10/2008). Wartawan, pengunjung dan anak-anak yatim piatu ingin bersalaman dengan mereka.
Tidak terkecuali Presiden SBY dan NY. Ani Yudhoyono yang mengundang mereka. Keduanya terlihat antusias menjabat tangan dua belas anak itu.

Ketika antri memasuki ruang theater, para pemeran Laskar Pelangi itu sudah menarik perhatian. Pengunjung yang kebetulan mengenali rombongan kecil itu pun langsung memanggil-manggil.
"Eh itu ada Ikal, Mahar, Flo, Kucai, A Kion, Sahara, Aling!" suara dan kilatan lampu kamera ponsel susul menyusul tidak berapa lama kemudian.
Suasana kembali jadi heboh ketika kelompok musik Nidji tiba di lokasi. Giring, vocalis kelompok musik yang bawakan lagu tema Laskar Pelangi, yang kini jadi sasaran pemburu foto bersama.

Seratusan anak jalanan jadi tamu undangan nonton bersama Presiden SBY petang hari ini. Mereka adalah para pengamen cilik yang tiap hari mengais rejeki di Bulungan, Semper dan Tanah Abang.

Sebelum fim diputar, Presiden SBY sampaikan sambutan pendek. Dia berpesan kepada para hadirin untuk menyimak pesan moral berupa kegigihan, semangat juang dan pantang menyerah dalam meraih cita-cita.

"Saya belum bukunya atau menonton filmnya. Tapi saya mendengar karya ini sangat patut diapresiasikan. Mari kita saksikan bersama film yang indah ini," pungkas SBY.(lh/irw)Luhur Hertanto - detikNews

Resmikan Masjid, SBY Minta Umar yang Jujur dan Sabar Diteladani


Jumat, 10/10/2008 14:34 WIB
Jakarta - Presiden SBY mengapresiasikan Masjid Bani Umar yang diprakarsai keluarga mendiang mantan Wapres Umar Wirahadikusumah. SBY berpesan agar sikap jujur dan sabar Umar diteladani.

"Mudah-mudahan masjid ini menjadi sarana dakwah bagi umat Islam dan semoga kita bisa meneladani bapak mendiang Umar Wirahadikusumah yang jujur dan sabar," ujar SBY di Masjid Bani Umar, Jl Graha Bintaro Raya, Pondok Aren, Tangerang, Banten, Jumat (10/10/2008).

Setelah meresmikan masjid tersebut, SBY menyempatkan melakukan salat Jumat di masjid seluas 1,2 ha. Usai salat, SBY turun dari eskalator dan langsung disambut puluhan warga. Dengan didampingi Ibu Ani, Seskab Sudi Silalahi, Mensesneg Hatta Radjasa, SBY menyalami beberapa warga.

Masjid tiga lantai itu diresmikan hari ini karena bertepatan dengan kelahiran Umar pada 10 Oktober. Daya tarik masjid ini yakni adanya bangunan menara setinggi 59 meter. Masjid ini dibangun tanpa kubah dengan biaya pembangunan Rp 25 miliar.
(nik/iy)Aprizal Rahmatullah - detikNews
Foto: Setpres Dudi Anung

28 September 2008

SBY Santai Hadapi Syarat 30% untuk Capres


Senin, 29/09/2008 04:02 WIB
Jakarta - PDIP dan Golkar meminta supaya dalam RUU Pilpres mencantumkan angka 20-30 persen sebagai syarat parpol untuk dapat memajukan jagoannya menjadi capres. Presiden SBY tidak menganggap hal itu sebagai upaya untuk menjegal langkahnya.

"Saya sih fleksibel saja. Silahkan saja mana yang dianggap tepat untuk dijadikan syarat orang jadi presiden atau wapres," kata SBY saat berbuka puasa di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu (28/9/2008).

SBY tidak terlalu memperdulikan syarat pencalonan itu. Hanya saja dirinya meminta supaya keputusan yang nantinya akan diambil jangan dikaitkan dengan kepentingan sesaat

Lebih lanjut SBY juga menjelaskan tentang dirinya yang bisa dijadikan musuh bersama dalam Pilpres mendatang. SBY paham dengan posisinya sebagai calon incumbent. Baginya, ini adalah konsekuensi dari politik sehingga harus siap menghadapi segala cobaan.

"Saya harus hadapinya dengan tegar," tegas SBY.

SBY berharap tidak ada lagi masalah black campaign dalam berkompetisi. Pencemaran nama baik justru akan menunjukan kalau demokrasi bangsa ini tidak sehat.(mok/crn)Anwar Khumaini - detikNews

SBY: Saya Belum Masuk Ring


Senin, 29/09/2008 07:20 WIB
Jakarta - Presiden SBY sudah menyampaikan niatnya untuk kembali bertarung dalam Pilpres 2009. Pada saat yang tepat, dia akan masuk 'ring tinju' untuk menghadapi dan menangkis langsung serangan dari sesama capres yang selama ini belum dilakukannya.

"Ibarat main tinju saya belum masuk ring sama sekali. Tentu supaya adil dan fair maka saya perlu masuk ring suatu saat," ujar SBY seusai buka puasa bersama wartawan di Istana Negara, Jakarta, Minggu (22/9/2008).

Di situ, SBY akan melancarkan 'balasan' terhadap serangan yang ditujukan padanya selama empat tahun terakhir. SBY mengaku akan mengambil kesempatan itu untuk menyampaikan pandangan dan pemikirannya, serta memberi klarifikasi atas berbagai isu dan melurus informasi-informasi miring yang beredar di masyarakat.

"Kalau saya tidak berani counter, maka semua oleh rakyat dianggap benar dan bisa timbulkan hal-hal tidak baik. Maka perlu saya jelaskan mana yang benar menjadi kelemahan dan kekurangan pemerintah, tapi ada juga yang terlalu didramatisir," jelas SBY.

Langkah diam selama ini dalam menghadapi serangan yang diarahkan kepadanya, diambil SBY untuk menjaga stabilitas politik nasional. Pemerintah tidak akan bisa bekerja maksimal memulihkan ekonomi nasional pasca krisis, bila situasi politik gaduh saling tuding para tokoh.

"Tapi karena kita akan masuk pada pemilu, tentu pada saatnya saya akan
menyampaikan counter," imbuhnya.(lh/mok)Luhur Hertanto - detikNews