Tampilkan postingan dengan label Rupiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rupiah. Tampilkan semua postingan

19 November 2008

Rupiah 12.000/US$, IHSG Tergerus

Rabu, 19/11/2008 12:12 WIB
Jakarta - Pelemahan rupiah yang kembali menyentuh level 12.000 per dolar AS membuat pasar saham ikut tergerus. Saham-saham unggulan terpangkas signifikan.

Pada penutupan perdagangan saham sesi I, Rabu (19/11/2008) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 23,729 poin (1,99%) menjadi 1.166,133.

Sedangkan rupiah pada perdagangan valas pukul 12.00 WIB melemah 300 poin ke posisi 12.450 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi karena masih tingginya permintaan terhadap dolar AS namun pasokan di pasar relatif terbatas.

IHSG mengikuti pelemahan yang terjadi hampir di semua bursa Asia seperti Hang Seng turun 0,22%, KOSPI turun 1,04%, Nikkei turun 2,18%, STI Singapura turun 1,06%, Taiwan turun 0,33%. Sedangkan indeks Shanghai naik 2,26%.

Pelaku pasar sangat membatasi pembelian saham karena fluktuasi yang terjadi di pasar global membuat investor harus berhati-hati. Transaksi saham pun hanya berlangsung tipis.

Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 16.859 kali, dengan volume 1,015 miliar unit saham, senilai Rp 462,4 miliar. Sebanyak 19 saham naik, 110 saham turun dan 39 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 225 menjadi Rp 2.750, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 350 menjadi Rp 5.550, United Tractors (UNTR) turun Rp 175 menjadi Rp 3.450 dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 250 menjadi Rp 8.300.(ir/qom)

24 Oktober 2008

Dolar Tembus Rp 10.000


Jumat, 24/10/2008 14:40 WIB
Jakarta - Rupiah akhirnya tembus level psikologis 10.000 per dolar AS yang selama ini dilihat oleh pelaku pasar sebagai level yang keramat. Tembusnya rupiah ke 10.000 per dolar AS karena pasar cemas terhadap krisis global yang kini sedang menerkam Asia.

Pada perdagangan valas pukul 14.27 WIB, Jumat (24/10/2008) rupiah melemah 65 poin ke posisi 10.005 per dolar AS. Rupiah terus mengalami fluktuasi yang tajam selama sepekan terakhir dan terus menunjukkan posisi yang melemah.

Upaya Bank Indonesia (BI) masuk ke pasar untuk menahan pelemahan rupiah nampknya belum begitu berhasil karena pelemahan rupiah tidak sendiri tapi dialami semua mata uang Asia.

Posisi Asia yang sangat bergantung pada ekspor di Eropa dan AS membuat pemegang dana besar atau hedge fund khawatir terjadi pelemahan di ekonomi Asia.

Sementara Gubernur BI Boediono melihat tidak keistimewaannya rupiah melemah ke level 10.000 per dolar karena pelemahan rupiah lebih karena faktor global.

"Apa istimewanya rupiah 10.000?" tukasnya ketika ditanya usai wartawan usai Salat Jumat. (ir/qom)Irna Gustia - detikFinance
Foto: Dok detikcom

14 Oktober 2008

Rupiah Banyak Amunisi


Rabu, 15/10/2008 08:15 WIB
Jakarta - Gejolak pasar finansial global yang belum reda menjadi ancaman pelemahan rupiah. Tapi kini rupiah banyak amunisi untuk melawan sentimen negatif dengan keluarnya aturan Giro Wajib Minimum (GWM) dari BI.
Kebijakan pelonggaran likuiditas dalam valuta asing yang dilakukan oleh Bank Indonesia bertujuan untuk menambah pasokan dolar AS di pasar secara otomatis, sehingga dapat memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Aturan penurunan rasio giro wajib minimum (GWM) valas dari 3% menjadi 1%, diperkirakan akan menambah pasokan dolar AS ke pasar sekitar US$ 721 juta.

Pada perdagangan valas pukul 08.00 WIB, Rabu (15/10/2008) rupiah masih stabil di posisi Rp 9.740 per dolar AS. Posisi rupiah Rabu pagi ini tidak berbeda dengan penutupan Selasa kemarin (14/10/2008).
Sementara mata uang dolar AS terkoreksi terhadap euro setelah pemerintah mengumumkan menyuntik dana US$ 250 juta ke 9 bank di AS karena investor mulai melakukan diversifikasi investasi ke minyak dan saham.
Pada penutupan perdagangan Selasa waktu AS (14/10/2008) euro menguat ke 1,3618 dolar AS dibanding hari sebelumnya 1,3575 dolar AS. Sedangkan terhadap mata uang Jepang, dolar AS relatif stabil di posisi 102,07 yen dari sebelumnya 102,01 yen.
(ir/ir)Irna Gustia - detikFinance
(Foto: dok detikFinance)

08 Oktober 2008

Rupiah Kritis di 9.800/US$


Kamis, 09/10/2008 08:38 WIB
Jakarta - Rupiah kembali bergolak tajam hingga melewati batas level psikologis 9.500 per dolar AS. Pelemahan rupiah yang mengkhawatirkan ini terjadi saat ini pasar saham sedang kritis dan terpaksa ditutup.

Pada perdagangan valas pukul 08.20 WIB, Kamis (9/10/2008) rupiah melemah hingga ke posisi 9.875 per dolar AS dan ditransakikan di kisaran 9.850-9.900 per dolar AS.

Posisi rupiah pagi ini melemah tajam dibanding penutupan Rabu kemarin yang ada di level 9.595 per dolar AS.

Investor cemas kejatuhan pasar finansial global dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin mempersulit untuk memperoleh likuiditas. Kebutuhan dolar AS yang tinggi dari investor asing juga menjadi pemicu pelemahan rupiah.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom mengatakan nilai tukar rupiah merupakan hal yang penting untuk dipantau dan diwaspadai, karena ini juga akan berpengaruh terhadap inflasi.

"Oleh sebab itu BI secara terukur tetap berada di pasar apabila dibutuhkan dan akan kami sesuaikan dengan pergerakan-pergerakan di dunia," kata Miranda dalam jumpa pers di gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (8/10/2008).

Miranda menjelaskan, nilai tukar rupiah secara year to date dan rata-rata baru terdepresiasi 2%, sementara mata uang lain rata-rata terdepresiasi hingga 4%.

"Jadi kalau ada pelemahan rupiah di tengah global uncertainty seperti saat ini adalah lumrah selama dia teratur dan tidak menimbulkan ketidakpastian baru. Jadi kita hindari volatilitas dan gejolak yang berlebihan sehingga tidak menimbulkan ketidakpastian baru," jelas Miranda.(ir/ir)Irna Gustia - detikFinance
(Foto: dok detikFinance)