Tampilkan postingan dengan label Dow Jones. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dow Jones. Tampilkan semua postingan

23 Juli 2009

Dow Jones Tembus Lagi 9.000

Dow Jones Tembus Lagi 9.000

Perdagangan saham di Wall Street kembali bergairah dengan indeks Dow Jones kembali menembus level terbaiknya sejak November 2008. Membaiknya laporan keuangan perusahaan membawa saham-saham bergerak menguat.

Kuatnya laba korporasi pada kuartal II membawa indeks Dow Jones kembali ke level 9.000 untuk pertama kalinya sejak Januari 2009. Wall Street juga didorong oleh naiknya lagi penjualan rumah, yang memacu optimisme membaiknya perekonomian.

Pada perdagangan Kamis (23/7/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat hingga 188,03 poin (2,12%) ke level 9.096,29, yang merupakan titik tertingginya sejak November 2008. Hanya 30 komponen Dow Jones yang ditutup melemah.

Sementara indeks Standard & Poor's 500 juga naik 22,22 poin (2,33%) ke level 976,29 dan Nasdaq melonjak 47,22 poin (2,45%) ke level 1.973,60.

"Ini tak hanya sekedar disebabkan oleh satu faktor, tapi telah menyebar secara keseluruhan. Inilah yang membawa kepercayaan pada saya," ujar John Coyne, presiden Brinker Capital seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2009).

Nasdaq sangat didorong oleh saham eBay Inc yang mencatat kenaikan hingga 10,6% setelah mengumumkan laba yang melebihi ekspektasi Wall Street.

Volume cukup moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,40 miliar, sedikit di bawah rata-rata tahun lalu yang diperkirakan 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 3,01 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang diperkirakan mencapai 2,28 miliar.

Harga Minyak Melonjak

Sementara harga minyak mentah dunia juga ikut menguat seiring menguatnya Wall Street dan harapan akan membaiknya perekonomian.

Kontrak utama minyak light pengiriman September melonjak 1,76 dolar menjadi US$ 67,16 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman September juga melonjak 2,04 dolar menjadi US$ 69,25 per barel.

17 April 2009

Dow Jones Cetak Gain Terbaik Sejak Juli 1938

Sabtu, 18/04/2009 07:02 WIB



Jakarta - Wall Street menutup perdagangan akhir pekan ini dengan penguatan tipis. Dalam 6 pekan terakhir, indeks Dow Jones berhasil mencatat gain terbaiknya sejak Juli 1938.

Di akhir pekan, saham-saham menguat berkat dorongan sentimen positif dari kinerja kuartal I-2009 Citigroup yang melebihi ekspektasi, plus perbaikan dari indeks kepercayaan konsumen.

Pada perdagangan Jumat (17/4/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat tipis 5,90 poin (0,07%) ke level 8.131,33. Indeks Standard & poor's 500 juga menguat tipis 4,30 poin (0,50%0 ke level 869,60 dan Nasdaq menguat 2,63 poin (0,16%) ke level 1.673,07.

Dow Jones tercatat menguat hingga 22,7% dalam 6 pekan terakhir, yang merupakan raihan terbesar dalam 6 pekan sejak 29 Juli 1938. Khusus untuk pekan ini, Dow Jones tercatat naik 0,6%, S&P 500 naik 1,5% dan Nasdaq naik 1,2%.

Laporan yang menggembirakan dari perbankan telah membawa sentimen positif sepanjang pekan ini. Setelah Goldman Sachs dan JPMorgan, kini giliran Citigroup yang mencatat kinerja melebihi ekspektasi.

Citigroup berhasil menekan kerugiannya pada kuartal I-2009, setelah pada periode yang sama tahun lalu Citigroup mencatat rugi hingga US$ 5,1 miliar. Citigroup hanya mencatat rugi US$ 966 juta atau lebih baik dari ekspektasi pasar. Saham Citigroup ditutup turun 9% akibat profit taking setelah penguatan yang tajam sebelumnya.

"Tingkat pelemahan ekonomi sudah mulai melambat. Dari sisi makro, alasan yang banyak mendorong hanyalah bahwa kita terus mendapatkan data yang menunjukkan bahwa segala sesuatunya mulai beroperasi dengan sangat baik di pasar kredit," ujar David Lutz, direktur pelaksana Stifel Nicolaus Capital Markets seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (18/4/2009).

Perdagangan berjalan sangat aktif, di New York Stock Exchange mencapai 1,95 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Transaksi di Nasdaq mencapai 2,42 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar. Nurul Qomariah Detikfinance, foto reuters

19 Februari 2009

Dow Jones Terendah dalam 6 Tahun


Jumat, 20/02/2009 06:50 WIB
Jakarta - Indeks Dow Jones industrial average ditutup ke level terendahnya dalam 6 tahun terakhir. Salah satu pemicunya adalah kabar tentang nasionalisasi atas bank-bank bermasalah di AS.

Pada perdagangan Kamis (19/2/2009), indeks Dow Jones ditutup kembali turun 89,68 poin (1,19%) ke level 7.465,95, setelah sempat menyentuh 7.447,55. Indeks Standard & Poor's 500 juga turun 9,48 poin (1,20%) ke level 778,94 dan Nasdaq turun 25,15 poin (1,71%) ke level 1.442,82.

Saham-saham perbankan terjatuh hingga level terendahnya dalam 17 tahun terakhir oleh kabar nasionalisasi bank. Investor juga khawatir tentang rencana pemerintah untuk mengambil aset-aset bermasalah dari perbankan. Indeks KBW perbankan turun ke level terendah sejak 1992, dipicu oleh anjloknya saham Bank of America sebesar 14%. Demikian pula Citigroup yang turun hingga 13,8%.

"Terlihat sebuah 'kepulan asap di udara' bahwa kita semakin dekat dengan nasionalisasi bank, yang secara efektif bisa memusnahkan para pemegang saham," ujar Paul Nolte, direktur investasi Hinsdale Associates seperti dikutip dari Reuters, Jumat (19/2/2009).

Salah satu saham penggerak adalah General Electric yang sahamnya juga turun hingga 4% atau di bawah 10% untuk pertama kalinya sejak tahun 1995.

Sementara Nasdaq juga terpukul oleh kabar mengecewakan dari Hewlett-Packard yang sahamnya turun hingga 8%. HP memperingatkan bahwa kondisi pasar yang lemah kemungkinan masih akan berlangsung.

Namun analis menyatakan bahwa meski menyentuh level terendah, namun belum terjadi aksi jual cepat seperti pada Oktober dan November lalu, sementara volume juga sangat tipis yang mengindikasikan kurangnya keyakinan.

"Tidak ada kepanikan seperti yang terjadi pada November lalu," imbuh Nolte.

Perdagangan memang cukup moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,49 miliar atau sama dengan rata-rata tahun lalu. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,04 miliar atau di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.

Harga Minyak Membaik

Sementara itu, harga minyak mentah dunia mulai membaik setelah data cadangan minyak mentah AS cukup mengejutkan. Departemen Energi AS merilis cadangan minyak mentah AS justru turun 200.000 barel, setelah beberapa pekan sebelumnya menunjukkan peningkatan sehingga membuat harga minyak terus terpuruk.

Kontrak berjangka utama New York untuk minyak jenis light sweet pengiriman Maret naik tajam 4,86 dolar menjadi US$ 39,48 per barel. Sementara minyak jenis Brent pengiriman April naik 2,44 dolar menjadi US$ 41,99 per barel.
Nurul Qomariyah - detikFinance
Foto: Reuters

08 Desember 2008

2 Hari Terbaik di Wall Street


Selasa, 09/12/2008 06:52 WIB
New-York - Saham-saham di Wall Street kembali bergerak menguat, berkat optimisme atas rencana investasi infrastruktur besar-besaran yang diluncurkan presiden terpilih Barack Obama.

Saham-saham juga bergerak positif berkat perkembangan rencana pemberian bailout untuk sektor otomotif, sehingga bisa mencegah kebangkrutan sektor tersebut. Ini adalah kenaikan harga saham terbaik selama 2 hari berturut-turut, setelah bursa Wall Street terpuruk ke level terendahnya pada 21 November lalu.

Di perdagangan Jumat akhir pekan lalu, saham-saham juga telah menguat tajam, setelah munculnya harapan bahwa yang terburuk dari krisis akan segera berakhir. Kenaikan itu ternyata berlanjut hingga awal pekan ini.

Pada perdagangan Senin (8/12/2008), indeks Dow Jones menguat 298,76 poin (3,46%) ke level 8.934,18. Indeks Standard & Poor's 500 naik 33,63 poin (3,84%) ke level 909,70 dan Nasdaq menguat 62,43 poin (4,14%) ke level 1.571,74.

Saham-saham sektor konstruksi dan material bergerak menguat setelah Obama mengumumkan rencana investasi infrastruktur besar-besaran yagn diharapkan bisa menciptakan 2,5 juta lapangan pekerjaan baru. Saham Caterpillar naik hingga 11%, Terx Group yang merupakan pengembang gedung dan pertambangan juga naik hingga 18%.

Investor juga semakin punya harapan bailout untuk sektor otomotif akan segera dikeluarkan. Saham General Motors naik hingga 20%, sementara Ford juga naik hingga 24%.

"Lihat pada sektor yang sedang bekerja, segala sesuatu yang berhubungan dengan infrastruktur sekarang sedang terangkat. Secara jelas, orang-orang yang membuat 'hal ini' sedang dalam posisi di atas," jelas Kevin Kruzzenski, kepala analis KeyBanck Capital Markets seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/12/2008).

Kenaikan harga saham yang sudah terjadi selama 2 hari berturut-turut ini sekaligus mengangkat bursa dari keterpurukan pada level terburuk dalam 11 tahun terakhir pada 21 November lagi. Indeks S&P 500 kembali menggapai level 900, atau tercatat naik 22% sejak level terburuk itu. Namun jika dihitung sepanjang tahun ini, indeks S&P 500 masih tercatat turun 38%.

Sementara indeks Dow Jones juga kembali menembus level 9.000, untuk pertama kalinya sejak sekitar sebulan lalu.

Perdagangan cukup aktif di New York Stock Exchange dengan transaksi mencapai 1,74 miliar dan di Nasdaq transaksi mencapai 2,33 miliar.Nurul Qomariyah - detikFinance
Foto: Reuters

13 Oktober 2008

Indeks Dow Jones Cetak Rebound Terbesar dalam 75 Tahun


Selasa, 14/10/2008 06:39 WIB
New-York - Upaya penyelamatan massal krisis finansial memunculkan harapan baru bahwa krisis akan segera tertangani. Wall Street menguat, bahkan indeks Dow Jones mencetak rebound terbesar dalam 75 tahun terakhir.

Saham-saham di bursa AS itu mencatat reboung lebih dari 11 persen dalam sebuah rally cepat, terutama dalam setengah jam terakhir. Investor terpacu lagi untuk mengumpulkan saham setelah sejumlah negara didunia mengumumkan rencana penyelamatan finansial massal yang bernilai ratusan miliar dolar AS.

Pada perdagangan Senin (13/10/2008), indeks Dow Jones ditutup menguat tajam hingga 936,42 poin (11,08%) ke level 9.387,61, sekaligus memecahkan kemelorotan tajam dalam 8 hari terakhir perdagangan.

Ini adalah kenaikan terbesar dari Dow Jones sejak tahun 1933, seusai hari buruk 'Great Depression'.

Indeks teknologi Nasdaq juga menguat hingga 194,74 poin (11,81%) ke level 1.844,25 dan Standard & Poor's 500 menguat 104,11 poin (11,58%) ke level 1.003,35. Kenaikan S&P merupakan yang terbesar sejak 69 tahun terakhir.

Wall Street sudah menunjukkan tanda-tanda penguatan sejak awal, mengikuti penguatan yang sudah dicetak bursa Asia, Eropa dan bursa dunia lainnya. Investor kini sudah mulai lega bahwa para pemimpin dunia siap untuk menyelamatkan institusi finansialnya.

"Pesan utama dari pertemuan pekan lalu adalah pemerintah di seluruh dunia sepertinya menghadapi peliknya krisis finansial sekarang dan selanjutnya mengambil langkah ekstrim untuk memperbaiki berbagai hal," kata Patrick 'Hare, analis dari Briefing.com seperti dikutip dari AFP, Selasa (14/10/2008).

"Untuk sekarang, segala sesuatunya bergerak ke arah yang benar, baik pasar kredit maupun pasar saham bergerak maju," tambahnya.

Saham-saham di bursa lain pada awal perdagangan hari ini langsung ikut menguat. Indeks S&P/ASX 200 di Bursa Australia menguat 242,4 poin ke level 4.423,1. Demikian pula NZX-50 di Bursa Selandia Baru naik 190,71 poin ke level 2.973,10.(qom/qom)Nurul Qomariyah - detikFinance

29 September 2008

House Of Refpresentatif DPR AS Tolak Bailout


Selasa, 30/09/2008 07:32 WIB
DPR AS Tolak Bailout
Washington - Kabar buruk bagi bursa dunia, House of Representatives (DPR) Amerika Serikat secara dramatis menolak rancangan undang-undang mengenai upaya penyelamatan industri keuangan AS senilai US$ 700 miliar.

Sebanyak 228 anggota DPR AS menolak bailout melalui mekanisme voting terbuka selama 15 menit ini, sedangkan 205 menyetujui bailout. Penolakan muncul sebagian besar dari Partai Republik, partai Presiden George W Bush sendiri.

Sebelumnya pemerintahan AS George W Bush sangat percaya diri bailoutnya akan disetujui DPR setelah ada kompromi dengan Kongers AS.
"Proses legislasi gagal, krisis masih bersama kita," ujar Nancy Pelosi, juru bicara DPR AS seperti dikutip Reuters, Selasa (30/9/2008).

Kedua partai saling menyalahkan gagalnya bailout ini. Kalangan yang menolak bailout beralasan penyelamatan ini tidak logis, mereka tidak ingin pemerintah melakukan intervensi kepada bank yang telah menyebabkan krisis. Namun Pelosi mengatakan pihaknya akan tetap akan bekerja meloloskan RUU ini.

"Apa yang terjadi sekarang biarlah terjadi, kita harus segera melakukan langkah-langkah ke depan. Kita harus melindungi para pembayar pajak di samping itu kita harus menstabilkan pasar," ujarnya.

Bursa AS Anjlok Hebat

Gagalnya rancangan undang-undang ini mengakibatkan terpukulnya bursa AS. Indeks Dow Jones turun 6,98 persen atau 777 poin. Angka penurunan ini merupakan yang terparah dalam sehari di Dow Jones, diperkirakan lost yang dialami sekitar US$ 1 triliun lebih, sedangkan Nasdaq ambruk 9,14 persen atau 199,61 poin.(ddn/ddn)Dadan Kuswaraharja - detikFinance
Nancy Pelosi (Foto: Reuters)

Selasa, 30/09/2008 09:00 WIB Kepanikan Melanda Bursa Global Dadan Kuswaraharja - detikFinance Foto: Reuters Jakarta - Kepanikan melanda bursa globa


Selasa, 30/09/2008 09:00 WIb
Jakarta - Kepanikan melanda bursa global setelah House of Representatives (DPR) AS menolak bailout industri keuangan di AS.

Seperti dikutip AFP, Selasa (30/9/2008), di AS saja, akibat jatuhnya bursa Wall Street diperkirakan nilai pasar yang hilang mencapai US$ 1,2 triliun. Ini merupakan kejadian pertama kali di bursa.

Indeks Dow Jones turun 777,68 poin (6,98 persen) ke level 10.365, penurunan ini lebih besar ketimbang penurunan indeks saat terjadi setelah serangan teroris 9/11 di New York dan Washington.
"Kita harus bekerja dengan secepat mungkin, kita harus segera membereskan sesuatu," ujar Menkeu AS Henry Paulson setelah bertemu dengan Presiden AS George W. Bush.

Paulson yang merupakan otak di belakang rencana penyelamatan (bailout) industri keuangan senilai US$ 700 miliar itu tetap yakin bahwa bailout itu akan berhasil mengatasi krisis jika disetujui Kongres AS.

Di Amerika Latin, pasar saham turun 13 persen yang merupakan penurunan terbesar dalam 1 dekade lebih.
Bursa Eropa meski sudah terlebih dulu tutup sebelum berita penolakan DPR itu keluar sudah mengalami koreksi akibat kekhawatiran mengenai kesehatan sektor perbankan mereka.
"Ada kepanikan luar biasa, ini adalah penularan secara global. Ini bukan hanya terjadi di AS," ujar Joe Saluzzi, co-manager Themis Trading seperti dikutip Reuters.

Pada pembukaan saham hari ini, pasar Asia Pasifik juga dibuka melemah. Bursa Korea dan Jepang dibuka melemah 5 persen. Di Selandia Baru perdagangan saham turun 4,3 persen.(ddn/ddn) Dadan Kuswaraharja - detikFinance